Jumat, 14 Maret 2008

Gizi buruk

Kemaren pas kebetulan mo pulang kerja, tv diruang reception masih nyala. Sambil nunggu bus antaran iseng2 liat berita. Waktu itu ada berita mengenai gizi buruk yang menimpa seorang anak usia 5 tahun yang berat badannya hanya 5 kilo dengan derita sakit paru-paru. Bayangkan sudah separah itukah negeri ini, ataukah bangsa ini sudah tidak peduli sesama. Menanggapi berita seperti ini ada pro dan kontra antar sesama teman kerja, ada yang bilang mungkin si ibu yang kurang pandai memasak untuk anaknya, coba dikasih makan enak, ada yang bilang coba dikasih vitamin, buah dan makanan yang bergizi. Tapi sebenarnya masalahnya gak segampang itu. Aku berpikir ini bukan semata-mata kesalahan si ibu, dari penampilan memang si ibu terkesan bukan orang yang paling susah di dunia, tapi dengan penghasilan yang katanya hanya Rp 10.000,- perhari di jaman sekarang apa yang bisa diperbuat oleh seorang ibu, sementara mungkin yang harus diperhatikan bukan hanya seorang anak itu saja, bagaimana mau masak ”enak”, beli vitamin apalagi buah. Kesal juga mendengar pendapat teman2 yang sekenanya sementara mereka sendiri belum pernah menjadi ibu. Ibu mana yang tega melihat anaknya menderita. Belum lagi penyakit paru-parunya yang memungkinkannya sulit untuk menerima makanan yang mungkin karena sesaklah. Aku jadi ingat anakku ”Pahlevi” waktu gak bisa mimik susu lagi karena kondisinya sesak waktu itu. Bukan karena dia tidak mau atau tidak diberi susu, tapi memang kondisinya tidak bisa menerima. Kadang kita memang harus menelaah lebih dalam untuk merasakan empati yang dirasakan orang lain sehingga kita tidak dengan mudah menyalahkan orang lain.

Senin, 03 Maret 2008

Tawaran Kerja

Wah.. entah mimpi apa, Sabtu kemaren mantan bosku datang kerumah bersama istri mudanya.. Dia ngajak aku untuk gabung ke perusahaannya yang notabene baru didirikannya.. Weeeleeh ini godaan atau pilihan ya..
Akunya sih minta waktu untuk berpikir dan membicarakannya dengan suami..
Kalo dipikir2 lucu juga.., dia masih ingat samaku dan ingin aku ikut gabung ke manajemen yang dia pimpin yang aku udah pernah rasakan.
Banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan, walau yang pasti salary yang ditawarkan akan jauh lebih besar dari yang kuperoleh sekarang. Aku gak mau berspekulasi atas tawaran yang diberikannya. Yang kukhawatirkan adalah kesinambungan usahanya sendiri, tekanan, beban dan tanggung jawab pekerjaan yang lebih berat, waktu kerja yang lebih banyak, tidak adanya hak cuti tahunan, tidak ikutkan ke asuransi kesehatan, tidak menjadi peserta jamsostek, tidak ada jaminan kompensasi pensiun, kematian, dan sebagainya-dan sebagainya... Emang sih tadinya aku berpikir mo cari2 kerja yang lokasinya gak sejauh yang sekarang ini, biar lebih ada waktu untuk anak-anak.
Tawaran yang menggiurkan cuma, salary lebih tinggi dan pergi kerja pastinya sedikit lebih siang.. selebihnya harus dipikir 100 x.
Btw thanks de pak.. masih percaya sama cara kerjaku...

Kata Bijak

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.~ Mahatma Ghandi